PROFIL kita pekan ini adalah Achmad Rilyadi. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 19 April 1956. Dia dikenal sebagai sosok yang hangat di setiap organisasi yang dia terlibat di dalamnya, seperti di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) misalnya dan beberapa organisasi sosial lainnya.

Irel, begitu dia biasa dipanggil. Dia tidak pernah menyangka, baik semasa masih menjadi mahasiswa ataupun sesudahnya, bahwa keaktifan di organisasi itu akan membawa dirinya menjadi anggota DPR. “Dahulu saya aktif di HMI namun tidak sehebat Eggi Sudjana maupun MS Kaban,” kata Irel mengenang.

Dia yang mantan finance analysis di Tokyo, Jepang (1993) ini, lebih suka bekerja banyak dan tidak mengharap pujian apapun. Penyuka film “Ayat-ayat Cinta” ini juga bukanlah sosok politisi yang ramai dibicarakan di media. Sekilas nampak seperti kekurangan, tapi justru disanalah kelebihannya, tidak obral omongan, kaya tindakan.

 

Penggemar film “Laskar Pelangi” ini terkenal juga sebagai sosok yang memegang teguh prinsip, menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, memberikan akses kepada siapa pun yang membutuhkan, dan siap berkompromi dengan siapa pun demi kepentingan yang lebih luas.

Hal ini terlihat, kala Irel yang juga pernah menjadi finance analysis di Hongkong (1993) ini, mendirikan dan terjun dalam organisasi. Dia tidak mempunyai target kepentingan pribadi, dari awal dirinya tidak berniat sedikitpun menjadi politisi saat terlibat aktif di organisasi.

Hanya satu impian dirinya ketika berorganisasi, yaitu merealisasikan apa yang dicita-citakan selama ini, yaitu membangun masyarakat madani, sebuah masyarakat yang saling menghormati, tidak membedakan berdasarkan golongan, ras dan keturunan.

Irel meyakini, salah satu cara menuju masyarakat madani adalah dengan berjuang melalui jalur politik di parlemen. Parlemen, terang ayah enam orang anak ini, memiliki kewenangan dalam membuat undang-undang. Karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan membentuk partai politik

Karena kesamaan visi dan misi, Irel bersama dengan teman-temannya akhirnya mendirikan organisasi sebagai cikal bakal Partai Keadilan (PK), bersama teman-teman seperjuangan dirinya aktif dalam memperjuangkan kemaslahatan umat, hingga sekarang berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Anggota Majelis Pertimbangan Partai di PKS, pada periode 2009-2014 dipercaya PKS untuk menjadi wakil rakyat, maju ke gelanggang politik praktis pada daerah pemilihan (Dapil) Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Pulau Seribu.

Kita butuh orang yang menyukai tindakan, lebih suka turun ke lapangan daripada berkoar-koar, lebih suka mendengar dan sigap melayani

 

Ketika berkampanye Irel tidak pernah sedikitpun mengumbar janji-janji politik, semuanya dia lakukan dengan bekerja dan tidak banyak bicara. “Kita butuh orang yang menyukai tindakan, lebih suka turun ke lapangan daripada berkoar-koar, lebih suka mendengar dan sigap melayani,” papar alumni Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jakarta (1981) ini.

Meskipun tidak mudah, Irel berjanji akan konsisten terus memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. “Setelah duduk di DPR sebagai wakil rakyat, bertekad harus ada keberpihakan kepada masyarakat luas, semoga saya bisa terus konsisten memegang teguh amanah ini,” terang pria yang memiliki hobi membaca ini.

Sebagai wakil rakyat dirinya tidak serta merta melupakan asal usulnya sebagai seorang wiraswasta yang digelutinya sejak masa muda. Dirinya mengaku tetap aktif bahkan berniat melebarkan sayapnya di berbagai bidang.

“Saya menyebutnya sebagai wiraswasta, kalau pengusaha ke-kerenan. Memang dari awal tidak ada niat untuk jadi politisi, hanya ingin merealisasikan apa yang saya cita-citakan,” terang Direktur Pemasaran Perum Perhutani (1999-2001) ini.

Menurut Irel, peran dan dukungan keluarga sangat besar karena tanpa dukungan mereka dirinya tidak akan sanggup menjalani amanah sebagai wakil rakyat. Keluarganya selalu mensuport dirinya agar tetap berpegang teguh amanah yang diberikan oleh masyarakat.

“Dari dulu keluarga saya sudah terbiasa dengan ritme kerja yang seringkali pulang hingga larut malam sewaktu saya bekerja di perusahaan swasta asing,” papar Irel yang juga lulusan Universitas Islam Asy Syafiiyah (UIA), Jakarta (2008).

 

Kenaikan TDL

SEBAGAI wakil rakyat, dirinya selalu berusaha konsisten terus memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Seperti rencana pemerintah menaikkan TDL awal 2011, dirinya menilai, proposal yang diajukan pemerintah cukup logis dan realistis mengingat kondisi keuangan negara juga sedang morat-marit.

“Sebenarnya wajar-wajar saja jika ada kenaikan, tetapi sebagai wakil rakyat, kita tidak serta-merta mengikuti keinginan pemerintah, Alhamdulillah 2011, rencana kenaikan TDL 2011 sudah dibatalkan, dan itu sudah final menjadi keputusan Komisi VII. APBN pun sudah begitu,” ungkap Irel.

Selaku wakil rakyat, dirinya mengaku sangat senang dan bersyukur ketika berhasil mewujudkan keinginan masyarakat luas. Ia pun tidak peduli dengan penilaian masyarakat yang terkadang hanya melihat sisi kelemahan DPR.

“Kadang-kadang media hanya melihat ketika anggota Dewan sedang tertidur dalam rapat paripurna. Tapi ketika berhasil melakukan sesuatu dianggap suatu kewajaran, padahal seharusnya hal itu merupakan prestasi,” kata Senior Manager PT Orix, Jakarta (1986-1999) ini.

Meski begitu, ujar dia, media memiliki peran penting untuk mengontrol tindakan dan perilaku wakil rakyatnya. “Artinya kalau memang salah segera ditegur melalui media agar DPR ke depan lebih berkualitas. Karena DPR itu merupakan pilar negara, pilar bangsa, terutama produk-produk yang dihasilkannya,” pungkas dia.(cr-14)

Sumber: www.harianpelita.com